Hukum Sebagai Obat

1/4/22, 5:50 AM

Kalo Sobat baca judul artikel ini, kira-kira Sobat kepikiran nggak apa hubungan antara Hukum dengan Obat? Hukum di mata orang awam kan dipandang penuh dengan aturan, larangan dan ancaman hukuman. Sementara obat, identik dengan kesan rasa pahit dan benda yang dikonsumsi untuk menyembuhkan suatu penyakit. Nah di tulisan ini, Oleco pengen ngajak Sobat merenungkan, gimana hukum bisa berfungsi sebagai obat.

Hukum yang dimaksud di artikel ini bisa Sobat terjemahin sebagai aturan yang luas. Hukum bisa dipandang sebagai aturan negara, atau sebagai suatu kesepakatan yang dibuat diantara warga masyarakat. Tapi kalo kita coba rangkum persepsi hukum di masyarakat, seolah-olah masyarakat ngelihat hukum itu deket banget sama kesan menyakitkan dan nyeremin. Pandangan masyarakat ini nggak sepenuhnya salah, karena mungkin penerapan hukum di masyarakat masih belum optimal.

Tapi sebenernya, hukum itu bisa jadi obat lho Sobat. Coba kita urai satu per satu ya.

1. Kalau ada kasus hukum di masyarakat, hukum akan berfungsi sebagai alat buat menilai siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus ini dan apa hukumannya. Artinya hukum akan jadi obat buat si pelaku, biar pelaku “sembuh” dari perbuatannya. Trus pelaku diharapkan menyadari perbuatannya dan jera nggak ngulangin lagi perbuatannya.

2. Dalam memutuskan suatu hal, terkadang rumusan keputusan harus berbenturan sama aturan hukum. Nah kalo kondisinya begini, keputusan jangan melabrak aturan hukumnya ya. Kalo kita pikir-pikir lagi, larangan aturan hukum ini akan berlaku sebagai obat lho. Tapi obatnya baru bereaksi dalam jangka waktu panjang.

Kalau obatnya “diminum” sekarang (aturannya sekarang diikutin aja dan nggak dilanggar), maka di waktu mendatang keputusan ini nggak akan menimbulkan masalah hukum (nggak muncul “penyakitnya”). Jadi kalo hukum melarang melakukan sesuatu, jangan buru-buru dianggap menghambat ya Sobat. Larangan oleh aturan ini baiknya kita anggap sebagai obat jangka Panjang, biar nggak muncul “penyakit” (masalah) di kemudian hari.

3. Hukum berfungsi sebagai obat juga bisa Sobat lihat dari proses ngerumusin suatu langkah hukum. Contoh: kalo orang tua mau ngebagi warisan ke anak-anaknya, hukum akan mengatur gimana mekanisme pembagiannya dan gimana langkah-langkahnya. Dalam kondisi ini, hukum akan jadi obat buat pihak-pihak yang terkait. Pewaris dan ahli waris akan mudah melakukan pembagian waris dan nggak akan ada yang merasa nggak adil kalau prosesnya udah mengikuti aturan hukum yang berlaku.

Semoga artikel ini mencerahkan Sobat ya. Semoga juga setelah Sobat membaca artikel ini, persepsi kita atas hukum sedikit bergeser jadi lebih baik dan menyenangkan.





KOMENTAR

Terima Kasih !

Tunggu beberapa saat hingga komentar anda tayang.







Terlambat Daftar Merek? Ini Akibatnya!



Hello Sobat OLeCo! Pastinya Sobat OLeCo udah sering denger kalau pengusaha ingin menjual suatu produ ...
user image Tazkia Nanini 7/7/22, 6:09 AM

Transformasi Cinta Dalam Lingkaran KDRT



Oleh: Karina Eka Sakti“Kok bisa ya, orang-orang tuh kehilangan rasa cintanya?”Aku penasaran baga ...
user image Karina Eka Sakti 7/4/22, 3:47 PM

Arena Bengis si Korban Pelecehan: Nyatakah Harapan?



Namanya Lala, dia temanku. Perempuan baru kepala dua yang kini mengenyam pendidikan di sebuah u ...
user image Diska Putri 7/3/22, 10:45 AM

Artikel Lainnya