Gunakan Sistem Restorative Justice, Tipikor Jadi Serasa Pinjol!

4/20/22, 9:29 AM

Dunia hukum sudah layaknya ranah entertainment, selalu ada saja hal yang  memancing kontroversi hampir setiap hari. Restorative justice kabarnya akan diterapkan pada kasus tipikor yang notabenenya merupakan extraordinary crime. Namun, sistem ini hanya akan diterapkan pada korupsi di bawah 50 juta jika telah cukup bukti perbuatan melawan hukum serta terpenuhinya syarat penyelesaian perkara di luar persidangan atas kesepakatan para pihak yang terlibat. Di samping itu, tersangka juga berhak menolak dan meminta untuk dilanjutkan ke persidangan, asalkan masih dalam batas waktu pelaksanaan kesepakatan, yakni selama 3 bulan. Akan tetapi, yakinkah Anda jika tersangka akan meminta agar dilanjutkan ke persidangan?

Meski dengan dalih restorative justice pada tipikor ini bertujuan untuk  mencegah penumpukan perkara, namun masih patut dipertanyakan, apakah penegak hukum telah betul-betul mempertimbangkan karakteristik kejahatan, pelaku, beserta modus operandinya? Korupsi kerap kali dilakukan karena keserakahan dan adanya  kesempatan, baik secara personal maupun secara komunal. Sementara faktor  pendorongnya bisa berupa motivasi intrinsik seperti rasa kepuasan ataupun motivasi  ekstrinsik dalam bentuk ambisi untuk mencapai jabatan tertentu. Keadaan seperti ini  mengingatkan saya pada pendapat Prof. Ronny Rahman Nitibaskara yang menyatakan  bahwa korupsi merupakan “kejahatan yang mempesona”, oleh karena hingga kini  masih terus ada stakeholder yang melakukan korupsi. Artinya, hukuman yang ada saat ini belum cukup memberikan efek jera bagi koruptor.

Di era digital ini, korupsi tentu lebih “licin” jika dilakukan dengan bantuan teknologi, sehingga proses penyidikan dan penyelidikan diperlukan keterampilan  khusus dalam hal penggunaan teknologi. Lalu, pengembalian uang hasil korupsi  sebagai wujud restorative justice tersebut, apa bedanya dengan pinjol (pinjaman online)? Tentu saja perbedaannya terdapat pada unsur melawan hukumnya. Akan  tetapi, secara teknis terdapat persamaan, yakni sama-sama tidak ada efek jeranya. Dikatakan begitu, sebab secara sederhana penerapan restorative justice pada  kejahatan luar biasa ini sudah dapat kita prediksi tentang konsekuensi apa yang akan  terjadi di masa mendatang. 

Koruptor merupakan pelaku kejahatan yang istimewa dengan ciri khas sebagai  berikut: berasal dari kalangan menengah-atas, memiliki intelektualitas yang tinggi, dan  memiliki kekuasaan, jaringan, pangkat atau jabatan. Maka wajar jika angka 50 juta  adalah “murah” baginya. Terlebih lagi jika korupsi dilakukan secara komunal, maka  tentu terlampau mudah penyelesaiannya. Semacam proses simpan-pinjam saja,  bukan? Hanya saja masih dalam konteks kejahatan tanpa efek jera sama sekali.

Kondisi seperti ini akan rawan dimanfaatkan untuk melakukan korupsi kembali  di masa mendatang. Lebih memprihatinkan lagi jika uang hasil korupsi tersebut telah  sedemikian rupa “diolah” sehingga didapatkan keuntungan darinya yang  disembunyikan. Maka koruptor akan tetap memiliki “simpanan” meski telah  mengembalikan uang korupsi. 

Penerapan restorative justice tidak direkomendasikan pada kejahatan luar biasa  yang merusak tatanan bangsa. Penanganan tipikor dengan pidana penjara tentu masih  lebih baik, meski juga belum sepenuhnya memberi efek jera. Berapapun nilainya,  korupsi tetaplah kejahatan yang sangat berpotensi menjadi kebiasaan hingga generasi  berikutnya. Pembaharuan bentuk hukuman bagi koruptor semestinya tidak dibedakan  atas besar kecilnya nilai, tapi ditekankan pada dampak negatif yang dirasakan negara  dan masyarakatnya. Jika dibandingkan dengan maling seekor ayam, maka jelas lebih cocok bila diterapkan restorative justice ketimbang pada kasus korupsi, kan?




KOMENTAR

Terima Kasih !

Tunggu beberapa saat hingga komentar anda tayang.







Bikin Perjanjian Agar Tidak Lapor Polisi, Emang Boleh?



“Lagi ngapain, Bro?”“Ini liat berita, ada orang meninggal karena penganiayaan tapi gak dilapor ...
user image Adetia Surya Maulana 9/28/22, 9:25 AM

Jadi Tersangka Tapi Tidak Ditahan, Kok Bisa?



“Bro, equality before the law apaan sih?”“Itu salah satu asas hukum, yang artinya persamaan di ...
user image Adetia Surya Maulana 9/21/22, 7:20 AM

Kecelakaan Truk, Mengapa Sering Kali Hanya Sopir yang Jadi Tersangka?



“Waduh ini kok kecelakaan truk sering banget terjadi ya, Bro.”“Iya ni. Ada yang rem blong, kel ...
user image Adetia Surya Maulana 9/19/22, 9:27 AM

Artikel Lainnya